Itulah Kenapa, Wanita Itu Disebut Sangat Istimewa

102

Ini kisah seorang wanita yang pernah muda dengan segala ambisi dan cita-cita.

saya masih berusia 21 tahun waktu itu, ketika lulus kuliah dengan predikat cumlaude di institut negeri terkemuka di Bogor, Jawa Barat. Sarjana yang lulus 3,5 tahun meninggalkan teman-temannya seperjuangan di kampusnya. Bermodalkan IPK yang tinggi dan pengalaman organisasi yang banyak semasa kuliah, saya melamar ke berbagai perusahaan terkemuka di Jakarta. Saya bertekad tidak akan pulang ke kampung halaman sebelum mendapatkan pekerjaan. Melamar dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain bermodalkan alamat yang saya dapatkan dengan mencari informasi dari internet.

Tahun 2009 tidak seperti sekarang, di mana informasi dapat dengan mudah didapatkan dari hp android. Pengalaman kegagalan yang saya alami ketika interview, tidak hanya sekali tapi berkali-kali tidak pernah menyurutkan semangat saya. Saya ingat, tiap kali saya dinyatakan gagal interview, hati saya selalu berbisik, “Perusahaan itu akan menyesal tidak menerima orang seperti saya,” hm… saya memang sangat ambisius b
Dua bulan bergelut di seputar Jakarta, naik kopaja berjajal bergantian, kesana kemari menyusuri jalan dan akhirnya saya diterima di perusahaan nasional ritel di Indonesia sebagai Development Program Officer, jabatan yang saat itu dinilai bonafide dan hanya bisa ditempati oleh orang yang pandai, sistematis dan berpengetahuan luas. Dan bangganya saya menempati posisi tersebut.

Tidak butuh waktu lama untuk saya berkembang menjadi orang kepercayaan para manajer di perusahaan tersebut, tidak ada yang tidak mengenal saya karena saya kerap kali mewakili manajer untuk presentasi di depan karyawan yang lain. Menjadi wanita muda yang sangat percaya diri, mandiri dan punya karier yang bagus, membuat saya angkuh dan merendahkan banyak wanita lain di bawah saya. Beranggapan bahwa sukses ini saya raih dengan perjuangan diri sendiri, karena saya dan keberhasilan saya. Saya, saya, dan selalu saya.

Hingga suatu keadaan membalikkan semua, ketika usia saya 25 tahun saya menikah dan mutasi kerja di Malang, Jawa Timur. Saya dan suami saya memulai rumah tangga dari nol, kami membangun semua dari awal. Tapi itu semua tidak mengubah sifat dan keegoisan diri saya, apalagi dengan gaji lebih tinggi dibandingkan dengan suami saya, membuat saya begitu sombong dan melakukan apa yang saya mau.

Kehidupan berjalan begitu cepat, saya masih terus berkarier, berprestasi dan disegani oleh banyak orang. Hingga saya memiliki dua orang anak, perempuan dan laki-laki yang membuat saya mengubah jalan hidup. Wanita yang begitu percaya diri dan angkuh dengan segala kelebihan yang dimiliki, berkali kali menahan hasrat dan keinginannya karena melihat mata buah hatinya yang masih sangat kecil.

Putri saya berumur 2 tahun, dan putra saya berumur 2 bulan membuat saya mengorbankan segala kebiasaan yang dulu saya lakukan. Uang yang saya terima selalu saya gunakan untuk berfoya-foya ke mall, jalan bareng teman-teman, ke salon tiap minggu dan itu dulu. Tapi sekarang, daster adalah pakaian keseharian saya. Anak adalah prioritas hidup saya, tidak lagi jabatan, karier, dan kehidupan pribadi.

Anak adalah kebahagiaan saya, mengubah saya wanita yang selalu unggul di mata orang lain, menjadi wanita yang terjaga tiap malam untuk anaknya yang sakit. Anak mengubah impian saya, yang dulu ingin menjadi wanita sukses berkarier menjadi wanita yang harus mengalah membagi waktunya untuk anak-anak. Ketika saya bekerja, anak-anak diasuh oleh dua orang pembantu, yang tugasnya hanya merawat anak. Otomatis, memasak, cuci, setrika tetap saya. Habis waktu dan tenaga saya untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Sekadar me time di rumah sambil lihat TV pun saya tidak bisa.

Terkadang dalam hati kecil saya mengeluh, di mana kebebasan saya yang dulu, menikmati hidup dengan begitu bebasnya, merawat diri dan bersenang-senang memanjakan diri. Semua lenyap, yang ada saya harus bangun pagi, memandikan anak-anak, menyiapkan sarapan, bekerja, pulang membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, menyuapi anak-anak, terbangun tengah malam dan seperti itu setiap hari, di tiap bulan.

Karier saya masih berjalan baik, satu level lagi untuk menjadi senior manager di perusahaan. Sampai suatu ketika, pembantu saya mendadak berhenti kerja dan saya kelimpungan mencari penggantinya. Sudah dapat, berhenti lagi, saya cari dan terus seperti itu. Hati saya menjadi gelisah setiap pergantian pembantu, sangat terluka melihat pengorbanan anak-anak yang berusaha beradaptasi dengan orang baru, mengenali dan mencoba menerima keadaan.

Laman: 1 2

Promot Content

Simak Juga
close